Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana gelap dan sunyi menyelimuti gunung Slamet, suara jangkrik dan burung hantu saling bersahutan. Aku hanya memakai sandal gunung, celana training, dan jaket Rei parasit yang menyelimuti tubuhku. Aku memegang sebuah senter yang aku sorotkan kedepan, bahuku menggendong sebuah tas gunung dengan kapasitas 60 liter.
Aku terus berjalan, melewati kegelapan malam, walaupun badan ku terasa sangat letih. Seluruh kaki ku sakit, dan betisku yang mulai terasa keram. Aku tidak peduli dengan itu semua, karena ada yang membuatku seperti ini. Tapi, kedua temanku berhenti, mereka meletakkan tas nya di tanah dan meneguk botol air mineral.
"Fazz, kita buat tenda saja terlebih dahulu disini untuk istirahat sejenak. Jangan terlalu memaksa kan diri, kita semua sudah lelah." Ucap salah satu temanku yang berada di belakang.
Aku menoleh kebelakang, memperhatikan kedua temanku yang memang sangat kelelahan, "kalian saja yang istirahat, aku ingin langsung ke puncak." Ucapku, seraya melanjutkan perjalanan.
"Kamu jangan egois Fazz!!, kita ini satu tim. Jangan melukai diri sendiri hanya karena dia." Ucap temanku sedikit berteriak. Tapi aku tidak peduli, aku tetap berjalan, berjalan, dan berjalan. Dengan sesekali menoleh kebelakang, ternyata mereka memutuskan untuk beristirahat.
Aku berjalan sendirian dalam gelapnya malam, kadang tubuhku terasa seperti hampir tumbang, tetapi aku selalu berpegangan dengan batang pohon yang berada di sekitar ku. Aku meminum stamina, dan terus berjalan hingga akhirnya sampai lah pada puncak Slamet 3432 Mdpl.
Aku menatap langit-langit dalam kegelapan malam, bintang-bintang berkedip-kedip seperti menertawakan ku, kakiku berlutut ke tanah, seluruh rasa sakit, dan rasa letih yang sempat ku rasakan seperti hilang begitu saja. Tapi..., tapi tidak dengan luka dihati ku, sakit hati yang aku alami tidak akan sembuh begitu saja. Aku butuh waktu untuk melupakan nya.
Aku kembali berdiri, dan mendekatkan diri pada sebuah batu besar yang ada di sekitar ku. Aku meletakkan tasku di sebelah batu tersebut, lantas duduk di batu tersebut. Aku berteriak sekeras yang aku bisa, untuk meredakan rasa sakit hati ini.
Tiga tahun menyukainya, satu tahun mengobrol dan bercanda bersama, walau hanya menggunakan ponsel, karena kita tidak pernah bertemu, mungkin hanya saling melihat, tidak pernah satu kalipun kita mengobrol dengan saling tatap muka, karena kita ada didalam lingkup pondok pesantren. Sekarang dia lebih memilih orang lain, pergi jauh meninggalkanku, tapi nama dan kenangannya masih tertinggal di hati dan pikiran ku. Harusnya bukan raganya saja yang menghilang, tapi nama, kisah, dan kenangannya turut serta menghilang dari hidup ku.
Di atas batu itu aku mengingat-ingat kembali semua kenangan indah bersamanya, hingga tanpa disadari olehku, puncak Gunung Slamet mulai ramai oleh orang-orang yang menunggu pemandangan indah dari ufuk timur sana.
Cahaya terang yang diselimuti oleh lautan awan mulai terlihat, orang-orang mulai menyiapkan kamera terbaik mereka masing-masing, aku tetap duduk di batu besar itu dengan memandang jauh ke depan. Aku belum bisa mengikhlaskan kepergian nya, tapi aku juga sadar, mungkin ini pilihan terbaik yang telah ditetapkan oleh Tuhan, mungkin Tuhan juga memiliki skenario yang lebih baik, yang tidak terpikirkan oleh ku. Mungkin caraku juga salah, tidak seharusnya juga aku dekat dengan perempuan yang bukan mahram ku. Aku ingin berubah jadi lebih baik, menjadi laki-laki sejati, dan lebih bisa mengurus diri sendiri daripada mengurus orang lain, semoga Tuhan memudahkan ku untuk jadi lebih baik lagi.
-TAMAT-
Penulis: Muhammad Fawwaz Fa
bergabung dengan Gemar Baca
pada tanggal Kamis, 21 Agustus
2025. Instagram:@xly.fawwazyy_
Editor: Gemar Baca/GB
Comments
Post a Comment