Hujan sore itu turun tanpa kompromi. Langit menggantung kelabu, seakan ikut merasakan beban yang Nara simpan selama dua tahun terakhir. Di dalam kamarnya yang sempit dan sunyi, Nara duduk bersandar pada dinding, memeluk lutut sambil memandangi jendela yang di penuhi butiran air.
Sejak Arga pergi, hujan selalu membuatnya gelisah. Bukan karena takut petir atau basah, tapi karena hujan adalah hal terakhir yang mereka nikmati bersama.
Dua tahun lalu.
"Nara, kamu percaya nggak kalo hujan itu bisa menyembuhkan?" tanya Arga waktu itu. Mereka duduk di bawah atap halte tua, menyaksikan hujan deras mengguyur jalanan.
Nara tersenyum kecil. "Kalau hatimu luka, hujan malah bikin tambah sesak, Ga."
Arga tidak menjawab. Matanya menerawang jauh, seolah mencari sesuatu yang tak bisa di jelaskan. Nara ingat betul tatapan itu, tatapan kosong yang baru ia pahami setelah semuanya terlambat.
Diatas meja kayu, sebuah kotak kecil berisi surat-surat dan barang kenangan masih tersimpan rapih. Nara belum pernah berani membukanya lagi sejak malam Arga ditemukan tak bernyawa di kamarnya sendiri. Obate tidur, botol kosong, dan secarik surat yang menjadi luka terbesar dalam hidup Nara.
"Aku lelah, Na. Dunia ini terlalu bising, dan aku terlalu kecil untuk bertahan. Maaf, aku pergi duluan."
Surat itu tertulis dengan tangan yang gemetar. Nara menyimpan setiap kata di dalam dadanya, seperti pisau yang tak kunjung ia cabut.
Selama berbulan-bulan, ia menjalani hidup seperti bayangan. Ia keluar dari pekerjaannya sebagai editor, memutus hubungan dengan teman-temanya, dan mengurung diri di rumah. Banyak yang mencoba membantu, tapi luka Nara terlalu dalam untuk di jangkau oleh kata-kata penghibur.
Ibunya bahkan pernah berkata, "Nak, kamu harus ikhlas. Hidupmu belum selesai."
Tapi bagaimana bisa ia melanjutkan hidup saat separuh jiwanya pergi?
Suatu malam, Nara duduk di depan laptop tuanya, membuka folder kosong dan mulai mengetik. Ia menulis tentang Arga. Tentang senyum yang ia rindukan, tawa yang kini hanya tinggal gema, dan tentang malam malam yang tak lagi hanggat. Tulisannya bukan sekadar cerita, tapi pelampiasan, pengakuan, dan doa.
setiap malam, Nara menulis. Dari satu cerita ke cerita lain, luka itu mulai mengalir menjadi kata. Ia menemukan kembali dirinya di antara kalimat-kalimat yang jujur dan tanpa topeng.
Menulis menjadi terapi. Ia mulai berbagi tulisannya di blog anonim. Tak di sangka, banyak yang membaca. Banyak yang juga pernah merasa kehilangan, terluka, atau ditinggalkan. Ternyata , ia tidak sendiri.
Dua tahun sejak kepergian Arga, Nara berdiri di aula kecil perpustakaan kota. Di depannya, beberapa orang duduk, sebagian membawa buku yang baru terbit. Meninggalkan Luka kumpulan cerpen yang di tulisnya selama masa berduka.
Ia tidak pernah menyangka rasa sakitnya bisa menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain.
"Terimakasih sudah datang, " ucap Nara dengan suara gemetar."Buku ini bukan tentang kematian. Ini tentang bagaimana kita belajar hidup kembali setelah kehilangan. "
Ia mengangkat pandangannya, menahan air mata. Di luar, hujan kembali turun.
"Dan buat Arga ...," lanjutnya pelan, "Aku akan selalu ingat kamu, tapi kali ini, aku memilih untuk hidup. "
Malam itu, Nara berjalan pulang menyusuri trotoar yang basah. Ia menatap langit, merasakan tetesan air hujan mengenai wajahnya.
Untuk pertama kalinya, hujan tak lagi menyakitkan.
Kini, hujan manjadi pengingat bahwa hidup terus mengalir, bahwa luka tak harus di lupakan untuk bisa sembuh. Ia tahu, Arga mungkin tak pernah benar-benar pergi ia hidup di setiap kata yang di tulis Nara, dan di setiap langkah yang kini mulai berani ia ambil.
TAMAT
Penulis: Him Zu (Ibrahim Suga)
Editor: Bakhit Akbar Alamsyah
Comments
Post a Comment